Wednesday, November 7, 2012 - 1 comments

Untitled

          Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah tetapi bukan sebuah alasan juga untuk menghindarinya. Ketika sebuah amanah sudah diberikan kepada seseorang, hanya tanggung jawablah yang sejatinya harus selalu menyertainya. Perjalan untuk membuat sebuah perubahan itu tidak bisa secara singkat serta di tanggung oleh satu orang saja melainkan butuh proses yang berliku dan saling bahu membahu. Satu hal yang perlu disadari bahwa kita sebagai insan manusia terlahir di bumi ini untuk menjadi seorang pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. Ketika dalam diri kita sudah menyadari hal itu, besar harapannya sebuah perubahan pun dapat terwujud. Tidak pernah berharap apa yang akan kita dapatkan tetapi selalu berharap apa yang akan bisa kita berikan. Mungkin itu sekilas motivasi sederhana ketika kita dipercaya oleh orang-orang disekitar kita untuk menjalankan sebuah roda peradaban.

Terlintas sedikit harapan untuk para pemimpin bangsa, untuk bumi pertiwi tercinta

          Betapa inginnya kami  menyadari bahwa bangsa ini akan membutuhkan pemimpin-pemimpin yang adil dan amanah dalam mengemban tugasnya
Betapa pilunya hati ketika bumi pertiwi menangis
rindu akan kepedulian
Haru biru terombang ambing dalam ketidakpastian
Begitu banyak deraan yang melanda
Terlalu lama bumi pertiwi dilanda duka
Kini kami hanya bisa merintih, meronta, dan berdoa
Kami putra-putri bangsa yang mempunyai cita-cita
Membawa misi suci hanya untuk bumi pertiwi
Melalui prestasi, inovasi, dan rasa kepedulian kami
Demi mengharap untuk bangsa yang lebih baik

Jangan pernah takut untuk mencoba kawan, jangan pernah merasa lelah ketika kita masih bisa menghembuskan nafas ini, jangan pernah ragu dalam setiap langkah. Ingatlah setiap satu kebaikan yang kita perbuat akan dibalas dengan jutaan kebaikan pula. 


Tetap semangat, bersama penuh senyuman



~Salam Inovasi untuk Negeri Pertiwi~
Saturday, November 3, 2012 - 0 comments

Bila....

Bila semua itu ada
Mengapa harus ada kata tidak
Bila semua itu telah tiada
Kini mulai muncul Mengapa

Bila....
Hati terjerap dalam dimensi tak tentu
Terombang ambing walau hanya menepi
Merintih ruah menelusuri keadaan
Sedikit menelisik terhempas berlalu

Bila....
Butiran pasir perlahan tenggelam
Tercipta masa yang menyisakan cerita
Berbingkai sebuah perjalanan
Bersedekap dalam alunan jiwa

Kini kau telah tercabik
Berderai gelora menyisakan luka
Sudahlah cukup segala tawa
Sudahlah cukup dalam tirai air mata